DARI KERAGUAN MENUJU PUNCAK PRESTASI
Yogyakarta, 2025 — Sebuah pencapaian gemilang berhasil ditorehkan oleh putra daerah Purbalingga. Malabi Wibowo Susanto, seorang Guru TIK dan DKV Teknik Grafika di SMK Negeri 1 Kaligondang, sukses menyabet gelar bergengsi sebagai Juara Umum 1 dalam kompetisi “Artificial Intelligence (AI) For Local Creative Contents in Public Service” Tahun 2025. Kompetisi bergengsi ini diselenggarakan oleh BPSDM Kominfo Yogyakarta yang mencakup wilayah kerja Provinsi Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, dan Bali.
Namun, siapa sangka di balik trofi kemenangan tersebut, tersimpan cerita tentang keberanian melawan keraguan dan kekuatan kolaborasi.
Berawal dari Detik-Detik Terakhir
Kisah ini bermula pada tanggal 20 Oktober 2025. Saat itu, informasi mengenai kompetisi baru saja diterima melalui Kepala Sekolah dan Waka Kesiswaan SMK Negeri 1 Kaligondang. Tantangan terbesarnya adalah tanggal tersebut ternyata merupakan hari terakhir pendaftaran.
“Jujur, saya sempat kaget,” ungkap Malabi. “Begitu mendaftar dan masuk ke grup WhatsApp peserta, nyali saya sempat menciut. Di sana sudah ada sekitar 370-an peserta dari berbagai instansi di tiga provinsi. Saya merasa kecil dan sempat tidak percaya diri.”
Kekuatan Dukungan Sekolah
Di tengah keraguan itu, lingkungan SMK Negeri 1 Kaligondang hadir sebagai sistem pendukung yang luar biasa. Dorongan semangat datang langsung dari Kepala Sekolah, Bapak Drs. Khairul Sholih Retno Broto, M.M., yang meyakinkan bahwa mencoba adalah langkah pertama menuju keberhasilan.
Dukungan teknis dan moral juga mengalir deras dari Waka Humas, Bapak Eko Wartoyo, S.Pd., S.T., Waka Kesiswaan, Bapak Sugeng Purnomo, S.T., serta Bina Prestasi Kesiswaan, Bapak Insan Nur Rabbani, S.Pd. Tak ketinggalan, doa dan semangat dari seluruh rekan guru serta siswa-siswi menjadi bahan bakar utama bagi Malabi untuk memberanikan diri melangkah maju.
Mengangkat Mutiara Lokal: Wayang Suket
Setelah memantapkan hati, proses kreatif pun dimulai. Malabi melakukan brainstorming mendalam untuk mencari identitas budaya Purbalingga yang paling kuat namun jarang terekspos dalam format digital modern. Pilihan akhirnya jatuh pada kisah inspiratif Wayang Suket Purbalingga.
Langkah konkret segera diambil. Malabi menelusuri jejak pewaris seni ini dan berhasil bertemu dengan Sang Maestro, Bapak Badriyanto. Pertemuan ini menjadi titik balik krusial.
“Saya datang bukan hanya untuk riset, tapi untuk memohon izin dan restu beliau,” cerita Malabi. “Alhamdulillah, Bapak Badriyanto menyambut hangat. Beliau bahkan memberikan kepercayaan penuh dengan memilih salah satu desain karakter maskot ‘Braling’ yang telah saya buat menggunakan AI.”
Perjuangan Menuntaskan Karya
Proses produksi dikerjakan dengan semangat berapi-api. Menggabungkan teknologi AI canggih (Google Gemini, Veo, ElevenLabs, Suno dan AI Song Maker) dengan kearifan lokal, Malabi merangkai narasi visual yang memukau. Proyek ini juga menjadi ajang kolaborasi apik antara dirinya, Bapak Badriyanto, pihak sekolah, hingga dukungan dari Bapak Bupati Purbalingga.
Tepat pada tanggal 13 November 2025, hanya satu hari sebelum tenggat waktu pengumpulan, karya tersebut akhirnya dikirimkan melalui Instagram.

Malam Puncak Kemenangan
Ikhtiar tidak mengkhianati hasil. Pada pengumuman tanggal 30 November 2025, nama Malabi Wibowo Susanto tercantum dalam daftar 13 nominator terbaik. Undangan untuk menghadiri Awarding Night di Ballroom Hotel Sahid Raya Yogyakarta pun datang.
Suasana tegang menyelimuti malam penghargaan. Bersaing dengan ratusan peserta berbakat dari tiga provinsi bukanlah hal mudah. Namun, ketika pembawa acara membacakan pemenang kategori tertinggi, rasa haru pecah. Malabi dinobatkan sebagai Juara Umum 1.
“Rasanya campur aduk, antara terharu, bahagia, dan tidak menyangka. Dari ratusan peserta hebat, saya bisa berdiri di posisi puncak. Ini adalah kebanggaan luar biasa bisa mengharumkan nama SMK Negeri 1 Kaligondang dan Kabupaten Purbalingga di kancah regional,” ujar Malabi dengan haru.
Kemenangan ini bukan akhir, melainkan awal. “Semoga prestasi ini menjadi motivasi bagi saya untuk terus belajar, menjadi lebih baik lagi, dan membuktikan bahwa teknologi AI bisa menjadi kawan terbaik untuk melestarikan budaya kita,” pungkasnya.


